Sabtu, 15 September 2012

PELATIHAN BAHASA INDONESIA




Jum’at, 14 September 2012 RSDBI Al Ikhlash kelihatan berbeda dari hari biasanya. Hari itu tidak kelihatan anak-anak di sekolah tetapi justru yang kelihatan adalah ustadz/ustadzah SD/MI se kabupaten Lumajang. Ya, hari itu memang RSDBI Al Ikhlash punya gawe besar  yaitu Pelatihan Guru Bahasa Indonesia SD/MI se Kabupaten Lumajang atas kerjasama Yayasan Dana Sosial Al Falah ( YDSF ) Surabaya, Kapita Pendidikan Indonesia ( KPI ) Surabaya dan RSDBI Al Ikhlash Lumajang.
Ustadzah Puji Lestari,M.Pd selaku ketua panitia menyatakan “ Pelatihan ini diikuti oleh 45 ustadz/ustadzah dari berbagai sekolah/madrasah yang tersebar di Kabupaten Lumajang.
Pelatihan ini akan dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 14-16 September 2012 sehingga akan berakhir pada Hari Ahad. Pelatihan ini ditentori oleh 3 trainer dari KPI masing-masing Ustadz Aminuddin, Ustadzah Cholis dan Ustadzah Maslacha “.
Pelatihan ini merupakan salahsatu upaya upgrading guru dalam upaya menciptakan kualitas pendidikan yang handal sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional ( Sisdiknas ) tahun 2003 dan juga merupakan visi lembaga pendidikan Al Ikhlash dalam turut serta mencerdaskan anak bangsa.
Guru sebagai agen pembaharu dan perubahan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia yang handal perlu selalu mendapatkan pembinaan, pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kompetensi masing-masing, sehingga diharapkan mereka senantiasa mendapatkan pencerahan dalam mendidik dan membimbing para siswanya.
                Drs Abdur Razaq, M.M selaku Kabid TK/SD Diknas Kabupaten Lumajang dalam kesempatan memberikan arahan pada pembukaan pelatihan menyampaikan bahwa kemampuan siswa dalam menulis sangat kecil dan juga minat bacanya dibandingkan dengan negara-negara lain. Beliau juga mengharapkan agar pelatihan-pelatihan ini secara berkala dapat diwujudkan sehingga bermuara pada kualitas output di sekolah/madrasah di kabupaten Lumajang.

Jumat, 10 Agustus 2012

KECERDASAN ANAK


Kelak, anak yang dibiasakan bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi dan mau mematuhi aturan umum di masyarakat.
Orang tua memang dituntut untuk menularkan etiket pada anak. Namun, mengajarkan etiket tak bisa dilakukan dalam satu hari. Perlu proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten serta berkesinambungan agar hasilnya maksimal. Terkadang, meskipun orang tua sudah "bersusah payah" mendidik si kecil agar bersikap sopan, lingkungan di luar rumah justru memberikan model yang berlawanan. Ada juga yang menyikapi perilakunya secara permisif misalnya meng- izinkan si prasekolah merebut mainan anak lain tanpa meng- upayakan cara yang santun dan beranggapan, "Biarin aja begitu, namanya juga anak-anak. Nanti juga berubah kok sikapnya kalau sudah besar." Nah, justru pemakluman seperti ini secara langsung maupun tidak mengakibatkan anak menerapkan perilaku tak sopan bahkan menganggap apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Alhasil, sikap tidak beretiket akan terus terbawa sampai besar. Kalau sudah begitu, akan sulit sekali untuk mengubah perilakunya.
Sebenarnya ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan orang tua agar anak cerdas bertatakrama, yaitu:
ORANG TUA SEBAGAI MODEL

Sekali lagi, pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Lantaran itu, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi tata- krama tersebut. Asal tahu saja, pola pengajaran bertatakrama tentunya tidak semata berupa nasihat, akan tetapi juga perlu contoh.
Kemudian, orang tua juga mesti konsisten dan konsekuen menerapkan adab yang baik. Misalnya, ayah/ibu minta si prasekolah setiap makan di meja makan. Akan tetapi dia sendiri makan di ruang tengah sambil nonton teve atau sambil berdiri. Ya, tentunya takkan berefek maksimal. Mungkin saja si anak malah protes, "Kok ayah makannya sambil nonton teve, sih?"

Yang perlu diwaspadai, anak dapat berperilaku berlawanan karena menyontoh orang lain baik yang sebaya ataupun lebih dewasa. Kalau sudah begitu, jelaskan pada si kecil dengan bahasa yang mudah dipahami kenapa sikap seperti itu dilarang dan tak baik dilakukan. Yang pasti jangan sambil marah-marah karena toh anak mungkin pada dasarnya tak tahu sikap yang dilakukannya itu baik atau buruk.
 DARI HAL KECIL
"Pengajaran" tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anak dikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak, kebiasan-kebiasan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga dia besar.
Nah, berikut contoh-contoh sikap dasar yang perlu "ditularkan", yaitu:

  • Mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ketika si prasekolah dibawakan sesuatu baik oleh orang tua maupun orang lain. Sekaligus mengajarkan menghargai jerih payah orang lain.
  • Mengucapkan "maaf" jika bersalah. Mengajarkan sportivitas dan berani mengakui kesalahan.
  • Mengucapkan tolong ketika meminta diambilkan sesuatu, misalnya. Dengan begitu, anak belajar untuk menghargai pertolongan atau bantuan orang lain.
  • Menyapa, memberi salam atau mengucapkan permisi jika bertemu orang lain. Mengajarkan pula perilaku ramah dan agar mudah bersosialisasi.
  • Mengajarkan adab menerima telepon. Sekaligus mengajarkan bagaimana berbudi bahasa yang baik. Dalam skala yang lebih luas, bagaimana bersikap di tempat umum, misalnya tidak berteriak-teriak, tidak memotong pembicaraan orang.
  • Mengajarkan privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur orang tua. Prinsip dasar sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain. Ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjadi manusia yang beretika.
  • Etiket makan yang baik, tidak sambil jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain. Sikap ketika makan di meja makan, tidak bersendawa atau makan sambil ngobrol, misalnya.
JELASKAN TUJUANNYA
Selain memberikan contoh yang baik, tentunya orang tua juga perlu menjelaskan pada si prasekolah kenapa harus menerapkan sopan santun. Misalnya, kalau anak berteriak-teriak atau lari kesana-kemari saat ayah/ibu menerima tamu tentu akan mengganggu konsentrasi dan pembicaraan. Di sisi lain, ayah/ibu pun jadi malu melihat tingkah-polah si anak. Sang tamu mungkin tak berkeberatan dengan sikap seperti itu, malah barangkali menganggap lucu. Akan tetapi, jika perilaku yang sama terus dilakukan efek jangka panjangnya cenderung negatif bagi si anak sendiri.
Barangkali si kecil juga tak tahu maksud harus mengucapkan terima kasih, maaf, salam dan sebagainya. Menjadi tugas orang tualah untuk menjelaskan alasan semua aturan atau tatakrama tersebut.

Nah, mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun sekali lagi tidak perlu dengan cara yang keras. Namun upayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretiket. Umumnya, anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimana pun orang tua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkannya.
Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pen-dek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.

HARUS SEJAK DINI
Mengenalkan dan mengajarkan tatakrama sebaiknya dilakukan sejak dini, setidaknya usia batita. Tentunya dikenalkan dari hal yang paling sederhana, seperti memberi salam, minta izin sebelum meminjam barang kakaknya, mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua, dan sebagainya. Jangan menunggu mengenalkan adab atau etiket ketika anak sudah besar. Pun, jangan menyerahkan sepenuhnya perihal pengajaran sopan santun ini pada pihak sekolah. Toh, pembelajaran etiket atau tatakrama sebenarnya paling efektif dilakukan ayah dan ibu.

Kamis, 31 Mei 2012



Hari menjelang petang..penat datang menghampiri usai jam sekolah berlalu... " Assalamualaikum " ucap seorang tamu yang ternyata wali murid saya yang juga teman sekolah... " Waalaikumsalam" jawab saya sembari mempersilahkannya masuk ke rumah. " Syeh....( begitu dia biasa memanggil saya) ana pinjam KTP sama KK ente....! " Untuk apa...? tanya saya penasaran. " Wes tah ndak pa-pa" tanpa ada rasa curiga sedikitpun kuserahkan KTP berikut KK saya yang diminta. Tak lama kemudian ia kembali lagi kerumah dengan membawa kwitansi dari rental mobil. " Afwan... ini ada mobil rental...besok ente bisa pake 1 x 24 jam" Ha..........aku langsung speechless tak bisa berkata-kata....

Tak habis sampai disitu keajaiban Allah....Menjelang tidur malam hari.... Seorang tamu datang lagi kerumah bersama dengan istri serta anaknya yang kebetulan akan sekolah keluar kota.
" Ustadz... ini masnya mau berangkat sekolah. Mohon doa restunya dan mohon maaf kalo ada hal-hal yang kurang berkenan dihati selama belajar bersama ustadz" begitu pamitnya sambil menempelkan amplop ditangan saya. Begitu tamu sudah tidak kelihatan, saya dqan istri membuka amplop yang ternyata subhanalloh.... 2 lembar uang kemerah-merahan ada didalamnya. 

Paginya... 

Sudah siap gak, Mi?

Ya, Ya.. bentar lagi.

Jawab istri saya sambil menyiapkan sedikit perbekalan sebelum perjalanan pagi dimulai. Ummi itu panggilan akrab saya ke istri setelah nikah dan buya itu panggilan akrab istri ke saya.
Panggilan mungkin sebutan yang biasa di banyak kalangan suami-istri. Mungkin kebanyakan orang memanggil istrinya dengan sebutan adik, mama, atau sebatas nama. Begitu juga istri ke suami. Tapi buat saya dan istri, panggilan buya-ummi itu lebih dari sebuah nama untuk ayah-ibu bagi anak atau panggilan pribadi masing-masing.

Lebih dari itu. Tidak sekedar panggilan tanda kedewasaan, tapi juga kasih sayang. Istri saya sejak dulu, sebelum nikah, memang inginnya dipanggil dengan sebutan ummi. Dan biar klop, saya pun mengikuti keinginannya, agar saya dipanggil buya. Keihlasan suami-istri ini penting untuk mengawali sebuah hubungan yang lebih serius; pernikahan.

Setelah istri saya, Nur Aini, siap dengan bekalnya kita pun berangkat menuju tempat  untuk melepaskan kepenatan setelah sekian lama berkutat dengan urusan rumah dan kerjaan; Selecta……...


Sambil menikmati pagi yang indah dan deburan air yang seakan pelan, perbincangan hangat mengalir begitu saja. Perbincangan dari timur ke arah barat. Inilah pentingnya mencari tempat perbincangan.

Angin yang sejuk seperti tahu hati saya sekarang lebih tenang dari sebelumnya.

Untuk mencairkan perbincangan yang biasanya kaku atau tidak membuat hati sreg, coba saja bicara di tempat penuh kenangan buat kita. Gak perlu jauh-jauh, kalau tempat itu hanya sebuah tanah lapang, tapi memberi kesan, coba sesekali mengenang masa lalu yang sudah diukir di sana. Biasa komunikasi lebih dekat ke hati, bukan emosi.

  Resep cinta bersama pasangan yang saya biasakan dalam rumah tangga juga memberi waktu yang cukup untuk istri dan anak.

Saya paham dan sadar, istri saya butuh waktu bersama dengan saya sebagai pasangan sahnya. Begitu juga anak-anak saya, M.Dhiyaul Khoiri dan Shofia Azzahra. Sesekali saya menangkap tanda itu. Sikap istri yang tidak biasa tentu bisa diartikan sebagai caranya mencari perhatian.

Buya, tolong ambilin sisir Rara! ( panggilan untuk anak kami yang kedua).

Pintanya pelan.

Aneh saya pikir. Sisir yang tidak lebih dari lima puluh senti jaraknya dari tempat duduknya kok malah minta tolong. Padahal tidak begitu sibuk mengurusi rara. Dan saya pikir dia bisa melakukannya sendiri. Tapi kenapa meminta bantuan? Nah, ini bisa jadi pertanda dia memang butuh penyegaran. Bisa jadi karena suntuk juga di rumah. Baiklah. Jalan-jalan lagi.


Jadi dengan tiga resep di atas tadi semoga bisa dicoba dan semoga Allah memberkahi para istri dan suami, dan semoga kebaikan tetap melingkupi kalian. Semangat menempuh bahtera rumah tangga. Karena akan berlayar jauh, maka jagalah bahtera ini sampai pada tujuan.

Jumat, 27 April 2012

Al aqlus salim fil jismis salim

Selamat pagi semua.... Semoga hidayah dan inayah Allah senantiasa menaungi kita semua... Jaga senantiasa kesehatan, baik kesehatan jiwa dan juga raga..
SD Al Ikhlash adalah salhsatu sekolah yang tidak hanya mengedepankan aspek kognisi saja saja tetapi juga memperhatikan multiple intelligences yang diantaranya adalah bodily kinestethic. Sebagaimana yang diutarakan Gardner bahwa : Gardner argues that there is a wide range of cognitive abilities, and
that there are only very weak correlations among them. For example, the theory predicts that a child who learns to multiply easily is not necessarily generally more intelligent than a child who has more difficulty on this task. 
The child who takes more time to master simple multiplication 1) may best learn to multiply through a different approach, 2) may excel in a field outside of mathematics, or 3) may even be looking at and understanding the multiplication process at a fundamentally deeper level, or perhaps as an entirely different process. Such a fundamentally deeper understanding can result in what looks like slowness and can hide a mathematical intelligence potentially higher than that of a child who quickly memorizes the multiplication table despite a less detailed understanding of the process of multiplication.
Dan juga memperhatikan bahwa  every child is special...setiap anak adalah istimewa dan mempunyai keistimewaan masing-masing. Tugas -pendidik adalah memilah dan memilih potensi apa yang dimiliki oleh anak untuk dikembangkan lebih lanjut...
Maka beberapa waktu yang lalu RSDBI Al Ikhlash mengikuti Tournament Futsal Puma III dan berhasil menorehkan tinta emas dengan menjadi runner up di kejuaraan antar SD/MI se Kabupaten Lumajang ini. Selamat berkarya dan selamat menikmati sajian ini..

Kamis, 15 Maret 2012

Soal Matematika

Banyak sekali ajang olimpiade matematika yang bisa diikuti oleh para siswa untuk mengasah kemampuan logic mathematic-nya, diantaranya adalah Primary Mathematics Wordl Contest atau biasa kita kenal dengan PMWC.
PMWC dimotori oleh Po Leung Kuk ( PLK ) Organization yang disupport Hongkong Institute of Education.Salahsatu target dari pelaksanaan PMWC ini adalah untuk meningkatkan minat para siswa dalam mempelajari matematika sehingga diharapkan siswa dapat lebih enjoy dalam mempelajarinya.
Peserta PMWC  berdatangan dari berbagai penjuru dunia diantara dari Australia, Bulgaria, China, India, Indonesia, Macau, Malaysia, Taiwan, Philippines, Russia, Singapore, South Africa, Thailand, the United States and Hong Kong.
Sekedar untuk sharing berikut kami upload beberapa contoh soal dan pembahasannya. Semoga bermanfaat...

Mathedge Beginner Answer 
Mathedge Beginner 
Mathedge Advance 
Tryout Problem 
Tryout Problem Answer 
Mathedge Intermediate 
Mathedge Intermediate Answer 

Selamat menikmati......

Selasa, 13 Maret 2012

Latihan Soal AMC

AMC atau Australian Mathematic Contest adalah sebuah perhelatan olimpiade matematika yang cukup mendapatkan animo masyarakat Indonesia untuk mengikutinnya. Bahkan dari Kab.Lumajangpun pada event tersebut yang diadakan tahun kemarin juga mencoba untuk berpatisipasi aktif didalamnya.

Berikut beberapa contoh soal latihan untuk AMC....Selamat menikmati... klik saja yang anda inginkan...selanjutnya biarkan mbah net alias internet yang mengerjakan sisanya.... sambil menikmati hidangan yang sudah disediakan...itupun kalo ada..ha..ha..ha...

Latihan kesatu AMC 
Latihan kesepuluh AMC
Latihan ketiga AMC
Latihan keempat
Latihan kelima AMC
Latihan keenam AMC
Latihan ketujuh AMC
Latihan kedelapan AMC
Latihan kesembilan AMC

Jumat, 10 Februari 2012

Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam adalah salahsatu komponen yang paling bersentuhan dengan pendidikan karakter. Maka tak pelak lagi jika kemudian banyak siswa/siswi yang belum berakhlaqul karimah, maka yang paling menjadi tersangka dalam hal itu adalah Guru PAI nya. Namun tidaklah benar murni demikian - tidak bermaksud mengelak lho...( kebetulan admin blog ini adalah GPAI )- seluruh komponen pendidikan seharusnya bersinergi untuk membangun karakter seluruh peserta didik adalah merupakan tanggung jawab bersama baik guru, sekolah, lingkungan rumah dan bahkan pemerintah juga bertanggungjawab atas terlaksananya pembinaan karakter siswa.
Dan untuk mendeteksi kemampuan siswa ( minimal dari segi kognitifnya ) ada sebuah wacana bahwa PAI ( Pendidikan Agama Islam ) akan di UNAS kan. Sekali lagi bahwa keberhasilan siswa tidak hanya dari segi kognisi tetapi ranah lain juga harus diperhatikan baik psikomotoriknya terlebih lagi afektif siswa sehingga akan terbentuk karakter dan moral peserta didik yang baik.
Dibawah ini sekedar tambahan beberapa latihan dan juga rangkuman PAI hanya sebagai wacana saja. Yang berkenan monggo dipersilahkan untuk mendowloadnya... sukur-sukur kalo ada masukan maupun komentar akan sangat berarti bagi kami

Rangkuman Materi Al Islam Kelas 6 Semester 2
Latihan UAS PAI
Latihan Q.S Al Maidah : 3 dan Q.S Al Hujurat : 13
Qodlo dan qodar
Namun demikian sekali lagi kami sampaiakan bahwa ujung tombak dari sekian banyak mata ajar, standar kompetensi dan indikator yang akan dicapai, semuanya akan bermuara kepada satu hal yakni terciptanyanya manusia seutuhnya seperti yang diamanatkan oleh Sistim Pendidikan Nasional.
Bravo pendidikan Indonesia...
Mari kita tingkatkan upaya mencerdaskan anak bangsa .....