Rabu, 28 November 2012

UNAS 2012

Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa bersama kita ......
UN 2012 masih jauh.... Namun segala persiapan menuju kesana sudah mulai dipersiapkan. Salahsatu upaya kita untuk mempersiapkan siswa/siswi kita secara mental sudah kita laksanakan di awal tahun ajaran baru dengan diadakannya outbound selama 2 hari di Agrowisata pasru jambe dan juga diikuti dengan pelaksanaan PMT ( Pemantapan Mental Tangguh ) tiap 2 bulan sekali. Sedangkan secara kognitif juga sudah diberikan tryout-tryout baik dari sekolah maupun dari luar sekolah yakni bekerjasama dengan Kualita Pendidikan Indonesia ( KPI ) Surabaya.

Berikut bagi yang menginginkan Kisi-Kisi UN 2012/2013 dan juga contoh soal UN 2011 dapat didowload disini. Paket1 dan Paket 2

Senin, 26 November 2012

HASIL FRC 2012

Rasa penasaran, bangga dan pilu menyeruak dalam dada sesaat hasil Final FRC 2012 yang diadakan di STEKPI medio 17 November 2012 dibacakan. Penasaran karena ini adalah pertaruhan siswa kita di event nasional. Bangga karena kita dapat mengantarkan mereka sampai final dan pilu jika kemudian hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi para wali murid yang mengharapkan putra-putrinya lebih dari apa yang akan dicapai di ajang FRC 2012 kali ini. Dan hasilnya adalah ..............siswa RSDBI Al Ikhlash hanya dapat tembus di 16 besar. Selengkapnya dapat diakses disini.disini

 Bagi yang membutuhkan kisi-kisi UN 2012-2013 bisa juga didownload disini




Senin, 29 Oktober 2012

Fachruddin Ar Razi Competition 2012






Olimpiade Studi Islam dan Matematika Fakhruddin ar-Razi Competition (FRC) 2012 akan digelar serentak di kota-kota besar di Indonesia. Olimpiade bertajuk ’Membentuk Generasi Ulama-Intelek’ ini akan digelar 13 Oktober 2012 di sejumlah kota seperti Jakarta, Cianjur, Bandung, Serang, Tasikmalaya, Tegal, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Bojonegoro, Medan, Balikpapan, dan Sorong. 
FRC 2012 diadakan Majalah Gontor bekerjasama dengan Klinik Pendidikan MIPA (KPM).

RSDBI Al Ikhlash Sebagai salahsatu sekolah yang concern dalam pembinaan religiusitas para siswa dan juga intens dalam pembinaan nilai-nilai ibadah yaumiyah turut andil dalam mengikuti ajang lomba FRC 2012. Dengan mengikut sertakan 12 siswa/siswinya mengikuti FRC 2012 dari rayon Malang. Dan Alhamdulillah 4 diantara para siswa/siswinya dapat lolos babak final yang akan dilaksanakan pada hari sabtu, 17 November 2012  yang akan datang. Klik disini untuk melihat hasil selengkapnya.


Inilah satu-satunya kompetisi di Indonesia bahkan di dunia yang memadukan studi Islam dengan matematika.
Lahirnya kompetisi yang menggabungkan dua disiplin ilmu ini dilatarbelakangi makin menipisnya pengetahuan agama Islam para siswa. Mereka lebih dominan mengejar pengetahuan umum ketimbang pengetahuan agama yang seharusnya ada keseimbangan di antara keduanya untuk mendapatkan pendidikan yang integral.  Para siswa yang pandai dalam bidang pengetahuan umum dan matematika hendaknya dibekali dengan nilai-nilai dan pengetahuan agama Islam agar mereka menjadi pribadi yang memiliki akhlakul karimah.

Di zaman keemasan Islam banyak lahir ilmuwan Muslim yang juga mumpuni di bidang agama Islam. Temuan-temuan mereka menjadi inspirasi pengembangan ilmu pengetahuan saat ini. Di bidang matematika, misalnya, para pakar matematika Muslim telah memberi kontribusi nyata dalam menemukan berbagai macam teori seperti sistem bilangan desimal dan sistem operasi matematika. Mereka antara lain al-Khawarizmi, al-Kindi, al-Karaji, al-Battani, al-Biruni, dan Umar Khayyam. Mereka mengenalkan angka-angka dan lambang bilangan, termasuk angka nol (zero), bilangan phi, algoritma, fungsi sinus, cosinus, tangen, dan lain-lain.
Di bidang kimia ada nama Jabir Ibnu Hayyan, al-Biruni, Ibnu Sina, ar-Razi, dan al-Majriti. Di bidang biologi ada al-Jahiz, al-Qazwini, al-Damiri, Abu Zakariya Yahya, Abdullah bin Ahmad bin al-Baytar, dan al-Mashudi. Al-Jahiz adalah pencetus pertama teori evolusi. Sedangkan di bidang fisika ada Al-Haitham, Ibnu Bajjah, al-Farisi, dan Fakhruddin ar-Razi. Selain jago fisika, Fakhruddin al-Razi juga jago matematika, astronomi, dan ahli kedokteran. Ia adalah ulama yang intelek.

Namun sayang, nama-nama penemu itu tidak banyak disebutkan dalam buku-buku pelajaran di sekolah maupun di perguruan tinggi. Pelajar dan mahasiswa lebih mengenal ilmuwan Barat.
Sementara itu Direktur KPM, Ir R Ridwan Saputra MSi, mengatakan banyak umat Islam yang tidak concern terhadap kemampuan matematika. Padahal matematika merupakan ilmu dasar berpikir.  “Jika matematikanya bagus, maka seseorang akan gampang mempelajari ilmu yang lain,” papar Ridwan.
Selain itu, lanjut Ridwan, matematika dapat melatih kemampuan menganalisa dan mengeksplorasi, sehingga kemampuan penelitiannya bagus.

Sabtu, 15 September 2012

PELATIHAN BAHASA INDONESIA




Jum’at, 14 September 2012 RSDBI Al Ikhlash kelihatan berbeda dari hari biasanya. Hari itu tidak kelihatan anak-anak di sekolah tetapi justru yang kelihatan adalah ustadz/ustadzah SD/MI se kabupaten Lumajang. Ya, hari itu memang RSDBI Al Ikhlash punya gawe besar  yaitu Pelatihan Guru Bahasa Indonesia SD/MI se Kabupaten Lumajang atas kerjasama Yayasan Dana Sosial Al Falah ( YDSF ) Surabaya, Kapita Pendidikan Indonesia ( KPI ) Surabaya dan RSDBI Al Ikhlash Lumajang.
Ustadzah Puji Lestari,M.Pd selaku ketua panitia menyatakan “ Pelatihan ini diikuti oleh 45 ustadz/ustadzah dari berbagai sekolah/madrasah yang tersebar di Kabupaten Lumajang.
Pelatihan ini akan dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 14-16 September 2012 sehingga akan berakhir pada Hari Ahad. Pelatihan ini ditentori oleh 3 trainer dari KPI masing-masing Ustadz Aminuddin, Ustadzah Cholis dan Ustadzah Maslacha “.
Pelatihan ini merupakan salahsatu upaya upgrading guru dalam upaya menciptakan kualitas pendidikan yang handal sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional ( Sisdiknas ) tahun 2003 dan juga merupakan visi lembaga pendidikan Al Ikhlash dalam turut serta mencerdaskan anak bangsa.
Guru sebagai agen pembaharu dan perubahan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia yang handal perlu selalu mendapatkan pembinaan, pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kompetensi masing-masing, sehingga diharapkan mereka senantiasa mendapatkan pencerahan dalam mendidik dan membimbing para siswanya.
                Drs Abdur Razaq, M.M selaku Kabid TK/SD Diknas Kabupaten Lumajang dalam kesempatan memberikan arahan pada pembukaan pelatihan menyampaikan bahwa kemampuan siswa dalam menulis sangat kecil dan juga minat bacanya dibandingkan dengan negara-negara lain. Beliau juga mengharapkan agar pelatihan-pelatihan ini secara berkala dapat diwujudkan sehingga bermuara pada kualitas output di sekolah/madrasah di kabupaten Lumajang.

Jumat, 10 Agustus 2012

KECERDASAN ANAK


Kelak, anak yang dibiasakan bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi dan mau mematuhi aturan umum di masyarakat.
Orang tua memang dituntut untuk menularkan etiket pada anak. Namun, mengajarkan etiket tak bisa dilakukan dalam satu hari. Perlu proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten serta berkesinambungan agar hasilnya maksimal. Terkadang, meskipun orang tua sudah "bersusah payah" mendidik si kecil agar bersikap sopan, lingkungan di luar rumah justru memberikan model yang berlawanan. Ada juga yang menyikapi perilakunya secara permisif misalnya meng- izinkan si prasekolah merebut mainan anak lain tanpa meng- upayakan cara yang santun dan beranggapan, "Biarin aja begitu, namanya juga anak-anak. Nanti juga berubah kok sikapnya kalau sudah besar." Nah, justru pemakluman seperti ini secara langsung maupun tidak mengakibatkan anak menerapkan perilaku tak sopan bahkan menganggap apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Alhasil, sikap tidak beretiket akan terus terbawa sampai besar. Kalau sudah begitu, akan sulit sekali untuk mengubah perilakunya.
Sebenarnya ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan orang tua agar anak cerdas bertatakrama, yaitu:
ORANG TUA SEBAGAI MODEL

Sekali lagi, pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Lantaran itu, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi tata- krama tersebut. Asal tahu saja, pola pengajaran bertatakrama tentunya tidak semata berupa nasihat, akan tetapi juga perlu contoh.
Kemudian, orang tua juga mesti konsisten dan konsekuen menerapkan adab yang baik. Misalnya, ayah/ibu minta si prasekolah setiap makan di meja makan. Akan tetapi dia sendiri makan di ruang tengah sambil nonton teve atau sambil berdiri. Ya, tentunya takkan berefek maksimal. Mungkin saja si anak malah protes, "Kok ayah makannya sambil nonton teve, sih?"

Yang perlu diwaspadai, anak dapat berperilaku berlawanan karena menyontoh orang lain baik yang sebaya ataupun lebih dewasa. Kalau sudah begitu, jelaskan pada si kecil dengan bahasa yang mudah dipahami kenapa sikap seperti itu dilarang dan tak baik dilakukan. Yang pasti jangan sambil marah-marah karena toh anak mungkin pada dasarnya tak tahu sikap yang dilakukannya itu baik atau buruk.
 DARI HAL KECIL
"Pengajaran" tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anak dikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak, kebiasan-kebiasan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga dia besar.
Nah, berikut contoh-contoh sikap dasar yang perlu "ditularkan", yaitu:

  • Mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ketika si prasekolah dibawakan sesuatu baik oleh orang tua maupun orang lain. Sekaligus mengajarkan menghargai jerih payah orang lain.
  • Mengucapkan "maaf" jika bersalah. Mengajarkan sportivitas dan berani mengakui kesalahan.
  • Mengucapkan tolong ketika meminta diambilkan sesuatu, misalnya. Dengan begitu, anak belajar untuk menghargai pertolongan atau bantuan orang lain.
  • Menyapa, memberi salam atau mengucapkan permisi jika bertemu orang lain. Mengajarkan pula perilaku ramah dan agar mudah bersosialisasi.
  • Mengajarkan adab menerima telepon. Sekaligus mengajarkan bagaimana berbudi bahasa yang baik. Dalam skala yang lebih luas, bagaimana bersikap di tempat umum, misalnya tidak berteriak-teriak, tidak memotong pembicaraan orang.
  • Mengajarkan privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur orang tua. Prinsip dasar sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain. Ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjadi manusia yang beretika.
  • Etiket makan yang baik, tidak sambil jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain. Sikap ketika makan di meja makan, tidak bersendawa atau makan sambil ngobrol, misalnya.
JELASKAN TUJUANNYA
Selain memberikan contoh yang baik, tentunya orang tua juga perlu menjelaskan pada si prasekolah kenapa harus menerapkan sopan santun. Misalnya, kalau anak berteriak-teriak atau lari kesana-kemari saat ayah/ibu menerima tamu tentu akan mengganggu konsentrasi dan pembicaraan. Di sisi lain, ayah/ibu pun jadi malu melihat tingkah-polah si anak. Sang tamu mungkin tak berkeberatan dengan sikap seperti itu, malah barangkali menganggap lucu. Akan tetapi, jika perilaku yang sama terus dilakukan efek jangka panjangnya cenderung negatif bagi si anak sendiri.
Barangkali si kecil juga tak tahu maksud harus mengucapkan terima kasih, maaf, salam dan sebagainya. Menjadi tugas orang tualah untuk menjelaskan alasan semua aturan atau tatakrama tersebut.

Nah, mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun sekali lagi tidak perlu dengan cara yang keras. Namun upayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretiket. Umumnya, anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimana pun orang tua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkannya.
Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pen-dek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.

HARUS SEJAK DINI
Mengenalkan dan mengajarkan tatakrama sebaiknya dilakukan sejak dini, setidaknya usia batita. Tentunya dikenalkan dari hal yang paling sederhana, seperti memberi salam, minta izin sebelum meminjam barang kakaknya, mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua, dan sebagainya. Jangan menunggu mengenalkan adab atau etiket ketika anak sudah besar. Pun, jangan menyerahkan sepenuhnya perihal pengajaran sopan santun ini pada pihak sekolah. Toh, pembelajaran etiket atau tatakrama sebenarnya paling efektif dilakukan ayah dan ibu.

Kamis, 31 Mei 2012



Hari menjelang petang..penat datang menghampiri usai jam sekolah berlalu... " Assalamualaikum " ucap seorang tamu yang ternyata wali murid saya yang juga teman sekolah... " Waalaikumsalam" jawab saya sembari mempersilahkannya masuk ke rumah. " Syeh....( begitu dia biasa memanggil saya) ana pinjam KTP sama KK ente....! " Untuk apa...? tanya saya penasaran. " Wes tah ndak pa-pa" tanpa ada rasa curiga sedikitpun kuserahkan KTP berikut KK saya yang diminta. Tak lama kemudian ia kembali lagi kerumah dengan membawa kwitansi dari rental mobil. " Afwan... ini ada mobil rental...besok ente bisa pake 1 x 24 jam" Ha..........aku langsung speechless tak bisa berkata-kata....

Tak habis sampai disitu keajaiban Allah....Menjelang tidur malam hari.... Seorang tamu datang lagi kerumah bersama dengan istri serta anaknya yang kebetulan akan sekolah keluar kota.
" Ustadz... ini masnya mau berangkat sekolah. Mohon doa restunya dan mohon maaf kalo ada hal-hal yang kurang berkenan dihati selama belajar bersama ustadz" begitu pamitnya sambil menempelkan amplop ditangan saya. Begitu tamu sudah tidak kelihatan, saya dqan istri membuka amplop yang ternyata subhanalloh.... 2 lembar uang kemerah-merahan ada didalamnya. 

Paginya... 

Sudah siap gak, Mi?

Ya, Ya.. bentar lagi.

Jawab istri saya sambil menyiapkan sedikit perbekalan sebelum perjalanan pagi dimulai. Ummi itu panggilan akrab saya ke istri setelah nikah dan buya itu panggilan akrab istri ke saya.
Panggilan mungkin sebutan yang biasa di banyak kalangan suami-istri. Mungkin kebanyakan orang memanggil istrinya dengan sebutan adik, mama, atau sebatas nama. Begitu juga istri ke suami. Tapi buat saya dan istri, panggilan buya-ummi itu lebih dari sebuah nama untuk ayah-ibu bagi anak atau panggilan pribadi masing-masing.

Lebih dari itu. Tidak sekedar panggilan tanda kedewasaan, tapi juga kasih sayang. Istri saya sejak dulu, sebelum nikah, memang inginnya dipanggil dengan sebutan ummi. Dan biar klop, saya pun mengikuti keinginannya, agar saya dipanggil buya. Keihlasan suami-istri ini penting untuk mengawali sebuah hubungan yang lebih serius; pernikahan.

Setelah istri saya, Nur Aini, siap dengan bekalnya kita pun berangkat menuju tempat  untuk melepaskan kepenatan setelah sekian lama berkutat dengan urusan rumah dan kerjaan; Selecta……...


Sambil menikmati pagi yang indah dan deburan air yang seakan pelan, perbincangan hangat mengalir begitu saja. Perbincangan dari timur ke arah barat. Inilah pentingnya mencari tempat perbincangan.

Angin yang sejuk seperti tahu hati saya sekarang lebih tenang dari sebelumnya.

Untuk mencairkan perbincangan yang biasanya kaku atau tidak membuat hati sreg, coba saja bicara di tempat penuh kenangan buat kita. Gak perlu jauh-jauh, kalau tempat itu hanya sebuah tanah lapang, tapi memberi kesan, coba sesekali mengenang masa lalu yang sudah diukir di sana. Biasa komunikasi lebih dekat ke hati, bukan emosi.

  Resep cinta bersama pasangan yang saya biasakan dalam rumah tangga juga memberi waktu yang cukup untuk istri dan anak.

Saya paham dan sadar, istri saya butuh waktu bersama dengan saya sebagai pasangan sahnya. Begitu juga anak-anak saya, M.Dhiyaul Khoiri dan Shofia Azzahra. Sesekali saya menangkap tanda itu. Sikap istri yang tidak biasa tentu bisa diartikan sebagai caranya mencari perhatian.

Buya, tolong ambilin sisir Rara! ( panggilan untuk anak kami yang kedua).

Pintanya pelan.

Aneh saya pikir. Sisir yang tidak lebih dari lima puluh senti jaraknya dari tempat duduknya kok malah minta tolong. Padahal tidak begitu sibuk mengurusi rara. Dan saya pikir dia bisa melakukannya sendiri. Tapi kenapa meminta bantuan? Nah, ini bisa jadi pertanda dia memang butuh penyegaran. Bisa jadi karena suntuk juga di rumah. Baiklah. Jalan-jalan lagi.


Jadi dengan tiga resep di atas tadi semoga bisa dicoba dan semoga Allah memberkahi para istri dan suami, dan semoga kebaikan tetap melingkupi kalian. Semangat menempuh bahtera rumah tangga. Karena akan berlayar jauh, maka jagalah bahtera ini sampai pada tujuan.